Islam Jalan Hidupku

Sumber: Hidayatullah

Islam dan Kristen di Mata Craig Abdurrohim Owensby Warga kota sejuk Chiang Mai, Thailand, yang hadir memenuhi sebuah gereja besar itu kira-kira 3.000 orang. Pembicaranya pendeta muda yang jauh-jauh datang dari Amerika bernama Craig Owensby. Retorika dan penampilannya mempesona. Orang berteriak-teriak, menangis histeris ketika mendengarnya berdoa, sambil melambai-lambaikan tangan.

“Padahal, di dalam hati saya sedang berkecamuk perasaan aneh. Ya Tuhan, orang-orang ini mendengarkan sesuatu yang saya sendiri sudah semakin tidak percaya,” Craig mengenang kejadian tahun 1992 itu.

Dalam perjalanan missi yang sama, mobil van yang ditumpangi rombongan Craig dan pendeta lainnya berhenti di sebuah desa kecil. Sementara mengisi bensin, salah satu kawannya memasuki warung kelontong. Penjaganya seorang gadis Thai dan ayahnya, agamanya Budha. Percakapan terjadi. Sejurus kemudian, si Kawan keluar dari warung, dan minta agar Craig dan yang lain mendoakan gadis itu, karena ia mau memeluk Kristen asalkan ayahnya yang keras juga ikut.

Setelah mereka berkumpul dan berdoa, Craig memasuki warung itu, tanpa sepatah katapun. “Mungkin karena melihat saya botak mirip Budha Gautama, ayah gadis itu tiba-tiba berlutut dan memandangi wajah saya,” kisah Craig. “Tangannya terbuka lebar, dan bilang siap masuk Kristen. Pikiran saya semakin kacau. Jika saya sesat, maka akan semakin banyak orang yang saya sesatkan. Saya harus berhenti.” Maka Craig pun berhenti jadi pendeta.

Menjadi Muslim tak pernah terbayangkan oleh Craig. Keluarganya penganut Kristen Prebisterian yang sangat taat. Setelah bertahun-tahun merintis karir bisnis, ia memutuskan untuk belajar Bible di sekolah teologi di Princeton Theological Seminary.

Di saat yang sama, pria jangkung ini diam-diam mempelajari Islam dan Al-Quran.
Setelah tidak jadi pendeta, dan melakukan bisnis di Jakarta, Craig kembali tertarik belajar Islam. Waktu itu ia sering jalan-jalan di kampung miskin dan kumuh Muara Baru, Jakarta Utara. Putra pendeta Walter Owensby ini kemudian memelihara dan menyekolahkan beberapa anak asuh dari kampung itu.

Keputusan besar untuk bersyahadat diambil justru gara-gara anak asuhnya. Suatu subuh, ia terbangun oleh suara-suara di lantai atas rumah kontrakannya. Saat diperiksa, ia menemukan kelima anak asuhnya sedang shalat berjamaah. “Saya pikir, mereka ini bandel dan ‘gila’, tapi masih tetap shalat. Saya sendiri mau kemana?” katanya. Craig pun bersyahadat.

Selama dua tahun menjadi Muslim, Presiden Direktur PT Spotcast Consulting Al-Quran Seluler ini mengakui ada banyak kekurangan para da’i dan khatib Indonesia dibandingkan kalangan Evangelis (misionaris) . “Orang-orang Kristen sangat efektif dan pintar mengambil hati orang.”

Berikut ini wawancara wartawan Majalah Hidayatullah, Cholis Akbar, Pambudi Utomo, dan Dzikrullah dengan suami Lilis Fitriyah dan ayah dari Sarah Zata Amani Owensby ini selama setengah hari di rumahnya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.
Di lantai atas rumahnya yang besar itu, tinggal juga 10 orang anak asuh, berusia 17-20 tahun. Semua laki-laki.

Apa hal yang paling susah saat menghadapi anak-anak asuh Anda?
Soal menegakkan disiplin. Sekali Anda membuat peraturan, Anda harus konsisten menerapkannya. Karena itu saya bikin sedikit peraturan supaya masalahnya juga sedikit.

Contohnya, piring dan gelas tidak boleh ada di lantai atas. Kalau mau makan di atas, sesudahnya piring dan gelas harus dibawa turun. Itu peraturan mudah, setiap orang bisa melakukan. Karenanya, bila dilanggar, bisa jadi saya pukul.
Supaya dia malu. Tapi kalau saya memukulnya, pasti akan ada masalah dengan keluarga. Karena itu saya tidak melakukan itu.

Berapa bantuan yang Anda berikan?
Saya memberi 300 ribu per bulan untuk masing-masing 10 keluarga dan 200 ribu untuk jajan 10 anak. Mereka sekarang seperti anak saya.

Mengapa harus repot-repot mengambil anak asuh tinggal bersama Anda?
Sejak masih menjadi pendeta Kristen, saya terbiasa menolong orang lain. Sebelum saya Muslim, saya ingin memberikan sedikit kepada orang lain karena saya mampu dan mereka tidak. Karena itu saya pergi ke Muara Baru, Jakarta, perkampungan nelayan yang sangat kumuh dan miskin. Dari situlah saya mengambil anak asuh.

Datang ke sana untuk missi Kristen?
Tidak. Tadinya saya memang seorang Kristen dan mengabdi untuk gereja. Belakangan saya menemukan banyak masalah dalam ajaran Kristen. Jika mempelajari dengan benar orang akan tahu Kristen tidak datang dari Yesus. Agama Kristen yang sekarang merupakan hasil kreativitas Kaisar Kostantin di zaman kekaisaran Roma. Waktu itu ummat Kristen terpecah-pecah. Untuk menyatukan dan mengokohkan kekuasaannya, Konstanstin memilih salah satu aliran untuk dibesarkan dan dijadikan satu-satunya aliran yang dianggap benar. Aliran itu yakin Yesus adalah Tuhan, dibawa oleh Paulus.

Prebisterian itu sekte apa?
Bagi saya aliran ini lebih mirip Islam dibandingkan semua aliran Kristen lainnya. Prebisterian itu mirip Protestan klasik. Mereka mau semua hal harus pasti, logis, dan rasional. Semuanya harus percaya doktrin Injil, tidak boleh lainnya. Prebisterian juga percaya trinitas seperti halnya Protestan.

Mereka meyakini Yesus adalah Sang Pencipta yang bisa membuat orang masuk surga atau neraka dan bisa berbuat apa saja sesuai keinginan Yesus. Mereka juga yakin Tuhan bisa memberi kekuatan kepada siapa saja, termasuk pada Anda atau saya.
Itulah Prebisterian. Saya sendiri percaya bahwa Tuhan bisa memberikan kita kekuasannya.

Namun mereka juga percaya Tuhan punya tiga orang yakni, tuhan Bapak, Isa, dan roh kudus. Mereka juga percaya ada dosa warisan.

Apa yang Anda permasalahkan dari Kristen?
Masalahnya jika Yesus tidak diangkat menjadi tuhan oleh Konstantin, apa yang akan terjadi dengan agama Kristen? Apakah Anda percaya hal itu? Di masa Paulus, Kristen masih dalam proses, tapi semakin rusak ketika zaman Konstantin.

Ada dua masalah penting dalam Kristen. Keyakinan bahwa Yesus sebagai Tuhan dan dosa warisan. Jika tidak ada dua hal ini, mereka mirip Islam. Jadi secara praktik dan ideologi mereka seperti Islam.

Karena itu, Islam harus memiliki ambisi besar menyebarkan kebenaran terhadap orang Kristen. Jika kita punya komunikasi bagus dan efektif pada mereka, maka tidak ada alasan baginya untuk tidak mau memeluk Islam.

Masalahnya apakah mereka masih percaya kebenaran Islam?
Saat Nabi Muhammad datang dan Islam berekspansi ke luar wilayah Arab, rata-rata pemeluk Islam tadinya orang-orang Kristen. Karena sebenarnya, Islam merupakan reformasi terhadap dunia Kristen. Kristen merupakan reformasi atas Yahudi.
Tetapi reformasi yang paling benar tentu saja Islam.

Masalahnya, kultur orang Islam dan orang Kristen sangat lain. Terutama kultur orang Kristen yang datang dari Barat. Orang Barat hanya mengenal Islam karena melihat jilbab. Bukan karena mengenal shalat, zakat, atau hal lainnya.

Bagi AS nilai keadilan bagi pria dan wanita itu penting. Jadi saya akan mengatakan, wanita juga boleh ke masjid seperti pria, meski orang-orang Arab mengatakan wanita tidak harus datang ke masjid. Sebab, saya melihatnya itu hanya masalah kultur. Tak ada larangan dalam Islam.

Contoh lainnya, meski saya menyukai sarung, masyakat Amerika kurang akrab dengan budaya sarung karena itu akan dianggap sebagai pakaian wanita. Orang AS menganggap kurang baik bagi pria bila mengenakan kopiah (penutup kepala). Bagi orang AS itu dianggap semacam superstition (tahayul). Harus diingat, banyak orang AS Katolik tetapi sikapnya seperti Protestan. Mereka percaya, tidak terlalu penting pakaian sebab Allah hanya melihat apa yang ada di dalam hatinya.
Karena itu, jika Anda tetap mendesak mereka memakai topi seperti itu, maka Anda akan dianggap sedikit gila. Termasuk pandangan aneh mereka melihat jilbab.

Jika ada kultur yang tak akrab dengan Anda, maka saya tak harus mengenalkannya.
Ini hanya masalah kultur. Insya Allah, dengan berjalannya waktu banyak taktik yang bisa dibawa untuk mengenalkan Islam.

Bagaimana Anda menjelaskan kepada orang Amerika tentang jilbab istri Anda?
Saya percaya jilbab adalah rahmat Allah kepada masyarakat Islam ketika diturunkan di Madinah. Kepada komunitas Amerika, saya akan mengatakan istri saya memilih jilbab karena itu adalah keputusannya sendiri.

Kami meyakini dunia sekarang ini memandang wanita hanya sebagai objek. Dengan jilbab, orang akhirnya bisa memandang isinya dan siapa dia sesungguhnya, bukan semata-mata objek tubuh yang bisa dilihat.

Waktu memilih calon istri, Anda menjadikan jilbab sebagai kriteria?
Ya. Kriteria saya saat memilih istri sangat sederhana: Muslimah yang baik. Anda tahu, begitu saya bilang ingin menikah, semua orang membantu saya mencarikan. Aa Gym, Arifin Ilham, Ihsan Tanjung, Didin Hafiduddin, ada yang cool dan ada pula yang charming. Ustadz Ihsan misalnya memilihkan saya yang terlalu tua dan memberi saya wanita yang umurnya seperti saya. Oh.. tidak. Saya mau wanita yang lebih muda dan berumur 25 tahun. Ha ha ha ha…

Sekian tahun mendalami Islam, Craig mengaku belum merasa sempurna dan puas menjadi Muslim. Untuk mengejar ketertinggalan ibadahnya setelah disibukkan rutinitas berbisnis dan semangatnya mendakwahkan Islam, tahun 2001, awal mula ia menunaikan Ramadhan, muncullah niat mengembangkan bisnis Al-Quran Seluler. Ini sebuah layanan mempelajari Al-Quran melalui Short Message System (SMS) dengan menampilkan empat da’i terkemuka; Abdullah Gymnastiar, M Ihsan Tanjung, M Arifin Ilham, dan Didin Hafidhuddin. Dengan pengisi modal cukup besar, 250 ribu USD, kini Al-Quran Seluler telah berkembang dan memiliki tidak kurang dari 60 ribu pelanggan. “Tapi ini bukan pure business, ini diniatkan nilai ibadah,” ujarnya.

Bagaimana perkembangan usaha Al-Quran Seluler?
Alhamdulillah terus berkembang pesat. Ustadz Ihsan Tanjung dan Ustadz Arifin Ilham memiliki rata-rata 4000 pelanggan, sedangkan Aa’ Gym memiliki 60 ribu pelanggan atau sekitar 85 % keanggotaan.

Niat saya agar semua orang bisa secara mudah membaca Al-Quran. Saya juga memberi kartu anggota gratis (free membership) bagi orang-orang yang memiliki gaji rendah. Bagi mereka yang memiliki gaji di bawah Rp 1,5 juta maka kita bisa memberi Al-Quran seluler secara gratis. Kami tidak kirim mereka SMS karena itu terkena biaya. Tapi mereka akan kita beri ID yang bisa telepon setiap hari melalui telepon biasa seperti premium number call setiap hari.

Berapa saham Anda di bisnis ini?
Hanya sekitar 13 persen. Sisanya dimiliki banyak orang Amerika di bawah payung Spotcast dengan investasi USD 250 ribu untuk membuat Al-Quran Seluler. Jika saya berfikir untung-rugi, maka saya rugi 140 ribu USD tidak dibayar oleh Spotcast. Alhamdulillah, bulan September 2003 kemarin, pertama kalinya Al-Quran Seluler mengalami Break Event Point (kembalinya modal) mendekati 900 juta rupiah. Tiap bulan ada 5% pelanggan yang hilang atau mundur, tapi ada penambahan 15-20%.
Kebanyakan yang batal hanya yang mula-mula coba-coba atau ganti kartu telepon.

Bagaimana respons keluarga ketika Anda memutuskan memeluk Islam?
Sekarang hubungan keluarga saya sangat bagus. Ayah saya sejak dulu lebih mementingkan saya mencari kebenaran, darimanapun itu. Saya berharap suatu saat ayah dan ibu saya memeluk Islam.

Waktu jadi pendeta, Anda orang yang seperti apa?
Waktu berhenti jadi pendeta tahun 1992, gaji saya 500 ribu dollar per tahun dengan fasilitas mobil dan rumah. Jadi kira-kira gaji saya Rp 350 juta per bulan. Itu angka yang biasa saja. Tapi yang sangat menjanjikan adalah karir saya di gereja. Kalau beberapa tahun lagi saya bertahan, maka saya akan menjadi pendeta senior. Jika itu terjadi, saya akan memimpin gereja besar sendiri dengan jemaat 6000 sampai 10.000 orang, program televisi nasional sendiri hingga helikopter pribadi. Pemasukan saya akan jutaan dolar per bulan. Tapi waktu itu saya sudah semakin tidak percaya pada ajaran Kristen.

Saya bicara dengan saudara kembar saya, “Mark, aku punya masalah besar karena saya sudah tidak lagi meyakini Yesus sebagai Tuhan. Saya sedang berpikir untuk berhenti.” Jawaban dia sungguh di luar dugaan, “Kalau mau mau berhenti, berhenti segera, sekarang!”

Saya pun berhenti dan menekuni bisnis, lalu pergi ke Indonesia menjadi Muslim dan menikah di sini. Secara jujur, ibu saya bahkan mengatakan, Islam merupakan hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Soalnya begitu memeluk Islam saya lalu menikah dan sekarang punya anak.

Ada kalangan zending dan misionaris yang sangat agresif bahkan cenderung mengundang kemarahan kalangan Islam. Bagaimana pandangan Anda?
Ada dua hal. Pertama, saya tetap menghormati mereka (misionaris) karena mereka melakukan hal yang sebenarnya justru seharusnya kita lakukan. Kedua, ini sebuah kompetisi yang butuh segera direspons Islam. Kenyataannya tidak ada. Sebab kalangan Islam sangat tidak tahu bagaimana cara membuat strategi bersama menghadapi kenyataan itu.

Kita harus harus punya sistem dan semangat seperti itu. Saya tahu banyak kalangan Muslim memandangnya sebagai hal yang jahat, tetapi mereka punya banyak gagasan bagus untuk memasarkan agamanya. Tidak terlalu penting bagi mereka menyebarkan ideologi yang salah. Tapi cara dia mengasihi orang miskin, menyayangi orang lain, dan banyak gagasan lainnya, itu bagus dan tepat sasaran. Saya menghormati itu.

Kebanyakan orang Kristen itu jujur mengasihi orang lain karena mereka percaya hal itu benar. Saya juga bertemu banyak kalangan Muslim tetapi mereka tidak merasa sayang terhadap Muslim yang lain. Saya ingin, orang Amerika melihat Islam sangat sayang terhadap orang Kristen, bukan dengan rasa marah.

Beberapa tahun belakangan ini, para pemimpin gereja seperti Jerry Farwell, Fraklin Graham, Pat Robertson termasuk Letjen William Boykin banyak mengeluarkan pernyataan kebencian terhadap Islam.
Saya pernah menjadi seperti Falwell yang keras dan fanatik, fundamentalis, saat berusia 16 tahun. Sejujurnya, banyak para pengikut Falwell adalah orang-orang jujur yang ingin semua orang menjadi Kristen. Tetapi kebanyakan mereka tidak tahu Fallwell orang yang sangat besar ambisi kekuasaannya.

Sikap Falwell ini lebih banyak dipegaruhi ambisi politik dan kekuasaan. Semacam globo-power. Orang-orang seperti ini, menyadari kini adanya kompetitor yang sangat berpotensi mengambil alih pengikutnya, kekuasaannya, bahkan bisnis-bisnisnya, yaitu Islam.

Tapi sejujurnya, di banyak kalangan Muslim juga bicara seperti itu tentang Kristen. Betul kan? Jadi hal biasa bila suatu kelompok agama berbicara buruk terhadap agama lain. Karena itu, kita harus punya sikap lain. Sebab saya sangat percaya tidak akan banyak orang Muslim murtad menjadi Kristen. Saya tidak percaya itu akan terjadi.

Bisakah Anda gambarkan peta ummat Kristen di AS dewasa ini?
Pada tahun 1970-an Kristen di AS mengalami krisis di mana tidak ada dinamika spiritual dan gagal menarik hati para penganutnya. Maka muncullah gerakan fundamentalis Kristen seperti yang saya alami. Saat itulah dimulai kemunculan orang-orang seperti Jerry Falwell. Nah, Kristen fundamentalis berubah menjadi gerakan evangelis. Tiga puluh tahun kemudian penginjilan fundamentalis terbagi menjadi dua, charismatic evangelist dan warm evangelist.

Sekarang ini, AS didominasi empat aliran Kristen. Charismatic evangelist, warm evangelist (dua-duanya konservatif dan cenderung fundamentalis) , Liberal, dan Katolik. Jumlah Katolik sekitar 40 persen populasi rakyat AS. Sisanya tiga aliran lain.

Menurut Anda, apa yang membuat orang Barat begitu tertarik pada Kristen?
Agama Kristen selalu memfokuskan perhatian pada pengampunan. Andaikan saya orang Kristen saya bertanya kepada Anda begini, apakah dengan Islam Anda yakin bisa masuk surga? Waktu Anda meninggal dan bertemu Allah, Allah akan bertanya mengapa Aku harus memasukkanmu ke dalam surga? Bagaimana Anda tahu bahwa Anda benar-benar masuk surga?

Sebagaian besar Muslim akan menjawab, “Saya tidak tahu”. Tetapi Kristen akan bilang, “Anda bisa tahu karena Injil telah bilang akan mengampuni Anda”. Injil bilang, semua orang berdosa. Sedangkan jika berdosa Anda tidak bisa masuk surga, tetapi Tuhan tahu itu.

Karenanya, Tuhan –dalam wujud Yesus– akan menebus dosa Anda dengan cara meninggal di dalam Salib. Saat itulah dia telah mengambil dan menggantikan dosa semua orang dalam semua sejarah hingga dia masuk neraka. Tetapi karena dia Tuhan, maka hanya sedikit waktunya di neraka. Dan Tuhan membangkitkan jiwanya kembali. Karena itu jika masuk Kristen Anda tidak perlu takut karena Tuhan telah mengampuni dosa Anda dari sejak lahir, yang kemarin, hingga esok. Syaratnya, Anda harus percaya Yesus. Dan Yesus akan masuk ke tubuh Anda yang disebut `roh kudus’. Dan roh itulah yang akan mengubah hidup Anda. Jika Anda percaya dengan itu, maka Anda harus ikut saya berdo’a sekarang. “Yesus, saya berdosa,…. amin”.
Dan jadilah Anda Kristen.
Tetapi bagaimana dengan Islam? Anda akan bilang, “Saya manusia, bukan Allah.
Saya tidak bisa memberi garansi seperti halnya Kristen.”

Kalau Anda sendiri sekarang ditanya begitu, apa jawaban Anda?
Sebagai Muslim, saya memang tidak bisa memberi jaminan seperti halnya Kristen.
Tetapi saya yakin seyakin-yakinnya seperti kata Al-Quran bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pengampun dan Allah sangat mudah mengampuni.

Allah mengatakan, setiap kali orang berbuat kebaikan dia akan memberikan 7 kali pahala. Jika orang berniat melakukan perbuatan baik, maka itu sama halnya berbuat baik. Sebaliknya jika akan akan melakukan perbuatan buruk dan dosa, belum akan disebut dosa, tapi kalau sampai dilakukan hanya dihitung sebagai 1 dosa. Itu matematika yang bagus yang kita sebut sistem.

Jika Anda melakukan shalat, berpuasa, berzakat atau Anda berbuat shadaqah secara diam-diam, maka Allah akan mengampuni kita. Kita harus memberitahu pada semua orang di dunia bahwa Allah Maha Pengampun. Kita harus melakukan kompetisi. Jika kita tidak punya sistem seperti itu, maka Kristen akan menang.

Terlepas dari faktor politik, apa sebenarnya yang ada dalam benak pikiran orang Barat tentang Islam?
Kebanyakan mereka hanya tahu sangat sedikit tentang Islam, itupun dari media massa yang bias. Mereka tahu orang Islam pemarah dan miskin. Kebanyakan Muslim tidak berpendidikan dan suka menjadi teroris. Masalah utama Islam di Barat adalah media. Kita bertanggung jawab untuk membuat merk dan citra Islam agar semakin bagus.

Jadi menurut Anda persoalannya justeru di dalam masyarakat Muslim sendiri?
Pertama, harus kita yakinkan orang di AS dan Eropa bahwa Allah yang disembah orang Islam itu Maha Pengampun. Kedua, orang Muslim yang mendengar itu harus berfikir tentang agama mereka.

Maksud saya begini, memang harus diakui banyak Muslim yang pemarah. Mereka harus berpikir, mengapa saya menjadi pemarah? Mengapa saya tidak pernah mau memaafkan orang? Di Iraq ada sekelompok keluarga Muslim saling berbunuhan selama 200 tahun dan tidak pernah bisa saling memaafkan. Juga di kalangan Arab lainnya. Penyebabnya karena sakit hati atau pembunuhan yang terjadi tujuh generasi yang lalu. Di mana nilai Al-Quran yang mengatakan harus memafkan orang lain? Dalam hadist qudsi, banyak disebutkan sifat Pengampun Allah mengalahkan sifat Marah-Nya.

Apa yang dapat kita lakukan bila ingin membawa Islam ke AS dan Eropa?
Orang-orang seperti Ustadz Ihsan Tanjung, Arifin Ilham, dan Aa Gym adalah wajah-wajah yang sangat dibutuhkan masyarakat AS dan Eropa. Masyarakat AS dan Eropa cenderung tidak bisa menerima Islam yang datang dari Timur Tengah. Bagi mereka, Timur Tengah adalah orang-orang yang dianggap ‘gila’ dan lebih suka marah. Meski media beberapa tahun terakhir mencitrakan Indonesia begitu jelek, tapi semua orang tahu Indonesia sangat tenang, dan penduduknya lebih suka senyum. Semua itu modal penting.

Ada seorang tokoh asing yang datang ke AS dan begitu dipuja-puja oleh banyak kalangan termasuk artis Hollywood. Anehnya semua orang bahkan mau mengikutinya sampai mengikuti cara berpakaian. Anda tahu siapa? Ya, betul, Dalai Lama. Ini terjadi karena dia dianggap ramah, charming, suka senyum, dan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat AS. Bagi kita, Islam, juga butuh strategi yang sama.

Bagaimana Anda membandingkan penampilan da’i Indonesia dengan para evangelis AS?
Ada sedikit kelemahan, diantaranya tidak memanfaatkan potensi besar dalam shalat Jum’at. Saya beberapa kali mengikuti ceramah Jum’at tapi kebanyakan ceramah khatibnya—maaf—tidak bermutu dan membuat ngantuk.

Agak serupa dengan Islam, Katolik mewajibkan penganutnya pergi ke gereja setiap Minggu dan jika tidak pergi itu dosa. Bagi Protestan, gereja harus dibuat sebagus mungkin dengan musik indah dan enak agar orang mau datang.

Saya mengikuti dzikir Arifin Ilham bersama istri suatu hari. Sangat enak dan lain dibanding zikir dari aliran-aliran sufi yang kita kenal. Berzikir ribuan kali tapi tidak khusyu’. Bagi saya, orang seperti Aa’ Gym atau Arifin adalah da’i yang tahu marketing secara baik.

Di Protestan setiap pendeta adalah enterpreuner (pengusaha) agama. Selain pastur dia harus membangun dan memakmurkan agamanya melalui gereja. Saya tahu banyak gereja kharismatik yang bahkan mau membayar dan memberi bonus bila mampu mendatangkan anggota baru agar orang datang ke gereja.

Ada kemungkinan kembali dan tinggal di AS?
Tidak. Saya akan tinggal di sini, saya punya anak dan istri di sini dan saya sangat menyukai hidup di sini. Sebab saya percaya da’wah Islam akan bisa besar bila datang dari Indonesia.*

BIODATA

Nama lengkap: Craigh Abdurrohim Owensby Lahir: Chicago, tahun 1961

Pendidikan:
University of Winconsin, Madison, 1980-1985 Bachelor of Science Universty of Winconsin, Madison, 1985-1986 MBA dari University of Winconsin, Madison, AS tahun 1991 Master of Theology dai Princeton Theological Seminary, Princeton, 1991

Pekerjaan:
Presdir PT Spotcast Consulting Al-Qur’an Seluler Service 2002 Spotcast Communication, Inc 1998
Asatel Communications, Pte Ltd 1997
IXCell Incorporate 1995
Additech, Inc 1993
Spring Industries, 1nc 1986.

Ayah: Walter Owensby
Saudara: Brian (kakak), Mark (saudara kembar), Lauren (adik) Istri: Lilis Fitriyah
Anak: Sarah Zata Amani Owensby

Thanks

Wassalam

Ismail Mulia. H 08126803287

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s